Rabu, 04 Januari 2012

Cangkul / Orang jawa mengatakan Pacul


Banyak hal menarik yang patut kita simak. Sebuah cangkul / orang jawa mengatakan pacul. misalnya, tak semata-mata sebuah benda dan alat yang akrab dengan petani. Cangkul/ orang jawa mengatakan pacul, bisa menceritakan banyak hal, seperti kerja keras, kemandirian, kehidupan orang kecil dan juga keikhlasan berbuat. Meskipun sekarang ini, alat produksi berupa cangkul tergusur setelah hadirnya traktor, tak membuat cangkul dilupakan. Cangkul tetap tak tergantikan, meskipun banyak alat canggih lainnya terus bermunculan. Bukankha, banyak hal yang dapat kita pelajari di sini khususnya terkait cangkul ?

Cangkul / orang jawa mengatakan pacul, ini sudah diperlakukan sebagai ‘bintang-bintang’ petang yang tak terlihat itu. Sementara mesin produksi modern seperti traktor, laksana matahari. Perannya begitu dominan. Orang-orang kemudian meremehkan para petani yang masih menggunakan cangkul, dan menyebut mereka tidak modern. Kita begitu mudah melupakan sesuatu, setelah memiliki yang lain. Seolah-olah sesuatu itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita dan kita tak pernah mengetahuinya. Tapi, apakah orang-orang akan berfikir bagaimana membuat traktor jika sebelumnya tidak ada petani yang membajak sawah menggunakan cangkul?

Namun, itulah dunia kita sekarang. Kita selalu lupa pada apapun, setelah memiliki sesuatu yang lebih sempurna. “Seperti kacang lupa pada kulitnya,” demikian orang-orang menyebutnya. Tapi, tahukah kita, bahwa hasil dari keringat mereka ternyata tak semata-mata hanya dinikmati oleh mereka saja. Banyak orang yang mampu tersenyum, berkat jerih petani. Namun, adakah kita menghargai pengorbanan mereka? Apakah kita pernah merasa bahwa satu biji padi begitu berharga dan sangat menentukan satu biji padi yang lain? Coba kita renungkan, pernah tidak dalam kehidupan kita tak membuang sisa makanan? Tidak pernahkah kita menjatuhkan satu beras yang sudah jadi nasi saat kita makan? Saya yakin, semua orang pernah melakukannya.

Terakhir, saya ingin mengatakan, tak semua dari filosofi cangkul harus ditiru. Sebab, ada juga sifat-sifat dari cangkul yang tidak terpuji. Cangkul / orang jawa mengatakan pacul, misalnya, selalu mementingkan diri sendiri. Lihat saja, setiap kali cangkul/ orang jawa mengatakan pacul digunakan petani mencangkul, selalu hasilnya ditarik ke belakang, untuk dirinya. Hal ini menyerupai salah satu tabiat manusia, yang mengumpulkan sesuatu untuk memperkaya diri. Sebagai perilaku, filosofi cangkul tak seharusnya kita tiru. Tapi, bukankah sekarang banyak dari kita yang mempraktikkan filosofi cangkul dengan tujuan memperkaya diri?

Selasa, 03 Januari 2012

Peralatan Membajak Zaman Tradisional

Ulasan:
Membajak merupakan pekerjaan utama dari rangkaian pengolahan lahan pertanian sebelum ditanami. Orang yang melakukan pekerjaan membajak disebut ureung me’ue. Tenaga yang digunakan untuk menarik berbeda antara lahan yang mengandung banyak air dan lahan yang kering. Para petani menggunakan kerbau untuk lahan pertanian yang banyak mengandung air atau daerah rawa-rawa yang biasanya terdapat di dataran rendah. Sedangkan untuk lahan yang mengandung sedikit air, yang biasanya menjadi ciri lahan pertanian dataran tinggi, para petani menggunakan sapi.
Berdasarkan tinggi dan rendahnya, lahan pertanian tanaman padi di jombang terbagi menjadi dua jenis, yaitu pertanian padi sawah dan pertanian ladang. Pertanian padi sawah mendominasi lahan pertanian yang terletak di dataran rendah. Sedangkan pertanian padi ladang biasanya merupakan ciri khas pertanian di daerah dataran tinggi. Lahan pertanian padi sawah terutama berada di daerah Kecamatan Ploso dan sekitarnya.
Pertanian tradisional tersebut diterapkan oleh sebagian besar masyarakat petani Jombang, misalnya : Pola pertanian tradisional merupakan warisan nenek moyang dan telah dilakukan para petani Jombang selama puluhan bahkan ratusan tahun. Para petani tradisional menggunakan metode dan peralatan sederhana untuk mengelola lahan pertanian mereka. Salah satu metode sederhana yang dilakukan para petani untuk menggemburkan tanah adalah dengan cara menghalau kerbau atau sapi mereka ke tengah lahan yang ingin ditanami. Namun, sekarang cara seperti ini sudah jarang dilakukan karena para petani telah menemukan bajak sebagai alat untuk membajak tanah.
Peralatan tradisional yang digunakan masyarakat petani Jombang dalam mengolah tanaman bukan hanya bajak. Masih banyak jenis peralatan tradisional lain yang digunakan  oleh para petani. Peralatan tersebut antara lain cangkoy (cangkul), droem seumibu (alat untuk menyiram tanaman), culek (cungkil), tukoy (alat untuk menyaingi tanaman), dan empang duk (wadah bibit padi). Biasanya para petani membuat sendiri peralatan-peralatan tersebut, termasuk bajak. Kadang pula para petani akan menyuruh tukang kayu untuk membuat peralatan tersebut.
Sistem pertanian tradisional masyarakat Jombang tidak hanya terlihat pada peralatan yang digunakan, namun juga pada pengelolaan lahan. Pengelolaan lahan pertanian tradisional masyarakat Jombang dilakukan dengan gotong-royong. Gotong-royong tersebut meliputi sebagian tahapan dalam pengelolaan lahan pertanian, misalnya waktu menanam bibit padi. Penanaman bibit padi dilakukan secara gotong-royong karena padi harus segera ditanam dan penanaman tersebut dilakukan secara serentak, sehingga membutuhkan banyak orang. Sebagian masyarakat Jombang menggunakan sistem upah untuk penanaman padi tersebut, sedangkan sebagian yang lain murni tolong-menolong. Sistem gotong-royong dalam pertanian tradisional tersebut dikecualikan pada membajak lahan. Setiap petani mengerjakan sendiri lahan mereka, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, misalnya pekerjaan tersebut telah terbengkalai atau seorang petani tidak sanggup menyelesaikan pekerjaannya. Dalam keadaan demikian, petani tersebut akan dibantu oleh petani yang lain dalam membajak sawahnya.
Sistem pertanian tradisional yang menggunakan konsep gotong-royong dalam penggarapan lahan tersebut digambarkan oleh Emile Durkheim sebagai ciri masyarakat tradisional. Dalam pandangan Durkheim masyarakat tradisional biasanya tinggal di daerah pedesaan dengan pembagian kerja yang relatif masih rendah. Solidaritas yang terbangun dalam masyarakat ini adalah sistem solidaritas mekanis. Solidaritas tersebut muncul berdasarkan atas kesamaan profesi mereka,
Perkembangan teknologi dan peralatan pertanian yang semakin modern saat ini tak ayal mulai menggeser peran peralatan tradisional, termasuk juga bajak. Modernitas menuntut masyarakat untuk serba cepat dan efisien. Hal tersebut juga dialami para petani. Kebutuhan para petani untuk meningkatkan hasil pertanian dengan waktu sependek mungkin menyebabkan para petani beralih menggunakan peralatan modern. bajak, misalnya, mulai ditinggalkan para petani, masyarakat menggunakan peralatan yang lebih modern yaitu traktor. Melihat hal tersebut bukan tidak mungkin suatu ketika bajak akan sama sekali ditinggalkan oleh para petani.

Senin, 02 Januari 2012

CARA MENANAN PADI YANG BENAR


Dalam rangka upaya peningkatan produksi tanaman padi sawah melalui cara dan dikerjakan dengan cara sebaik - baiknya dan agar supaya dapat meningkatkan mutu tanaman padi sawah baik dan memperoleh hasil yang tinggi kita harus memperhatikan hal - hal berikut ini .





A.        MEMILIH BIBIT PADI UNGGUL
Diusahakan kita memilih bibit padi yang bersertifikat atau sudah resmi dari pemerintah dan setelah padi di dapat lebih baik direndam selama satu sampai lima ban air rendaman diganti sati hari sekali.

B.        PERSEMAIAN
Pembuatan persemaian harus di pilih lokasi yang aman dari serangan tikus dan mudah kita control setiap hari . luas persemaian 4% dari luas areal yang akan ditanami . tanaman padi yang akan di buat persemaian kira-kira umur 23 sampai 26 hari dan sudah bisa ditanam dilahan sawah,

C.        PENGOLAHAN TANAH
Pengolahan tanah harus sempurna, sebelum di bajak tirlebih dahulu di genangi air sesudah di genangi air lalu di bajak dengan menggunakan mesin pembajak sawah atau bisa juga dengan kerbau

D.        TANAMAN PADI
Jarak tanaman diatur garis lurus dengan jarak 20 kali 20 . tiap lubang ditanami 2 sampai 3 saja

E.         PEMUPUKAN
di bawah ini Macam - macam pupuk yang digunakan dalam budi daya padi

a)    PUPUK ORGANIK
pupuk ini digunakan untuk memperbaiki fisik kesuburan tanah.
b)   OREA / pupuk N (niteogen)
Pupuk ini berfungsi untuk merangsang pertumbuan tanaman secara keseluruan dan kususnya batang , cabang , dan daun serta membantu menghijaukan daun dengan sempurna dan juga membantu fotosintesis.
c)    PUPUK SP36
Yang berfungsi untuk pertumbuan akar kususnya tanaman muda dan dapat membanta asimilasi dan pernafasan serta mempercepat pembungaan dan memasakan buah
d)   PUPUK ORGANIK CAIR atau POC
Gunanya untuk menambah unsur - unsur mikro dan sesuai dengan tanaman padi
e)   PUPUK KCL atau PUPUK KALIUM
Berfungsi untuk memperkuat tanaman agar daun,bunga,dan buah tidak mudah gugur, juga menjadikan tanaman lebih tahan terhadap kekeringan dan pemasakan buah

F.         PEMBERIAN AIR
Pemberian air tanaman harus umur 0 sampai 10 hari dan minimal padi setinggi 5cm (genangan air), umur 10 sampai 35 hari setinggi 10cm ,umur 40 sampai 100 hari setinggi 10cm . tanaman padi pada umur 110 hari air dibuang atau di keringkan

G.       PENGENDALIAN HAMA dan PENYAKIT
Hama yang perlu di waspadai adalah
tikus,wereng,sundep,dan harus di adakan pengendalian atau pemberantasan dan apa bila ada serangan sebaiknya di semprot dengan insektisida dan kalau tidak ada tidak perlu

H.       PANEN
Panen di lakukan pada saat tanaman padi sudah umur 130 hari atau sudah 90% menguning,
cara memanen dengan alat sabit kemudian alas untuk memotong batang padi dan kemudian di tumpuk setelah di tumpuk padi di rontokan dengan alat perontok yang namanya doser alau sudah di rontokan di bawapulang dan di jemur di bawah terik matahari .

I.          PENUTUP
Dengan teknologi seperti terturai diatas produktivitas usaha tani padi pastikan berhasil dengan baik dan sukses dalam rangka peningkatan produk padi indonesia dan pemerintah tidak lagi eksport beras dari negara tetanga

Gotong Royong di Desa


Saya sangat bersyukur dilahirkan di sebuah desa 5 km sebelah utara sungai brantas, yang lebih penting dari itu adalah prinsip hidup gotong royong sangat dijunjung tinggi dalam setiap bidang kehidupan. Semua urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak selalu dikerjakan secara bersama-sama dan tanpa ada hitung-hitungan bayaran.
Urusan lain seperti menanam tembakau, membangun gedung sekolah, tempat ibadah, hajatan pernikahan atau sunatan dan kematian juga dikerjakan dengan cara seperti itu.
Waktu terus berjalan dan jaman telah berubah, banyak perubahan terjadi desa saya. Semangat gotong royong yang dulu sangat dijunjung tinggi dari waktu ke waktu terus memudar. Titik awalnya dimulai dari sektor pertanian.
Pekerjaan mencangkul, membajak sawah, menanam dan menyiangi tanaman padi pada saat itu biasanya dikerjakan oleh buruh warga desa saya, mereka dibayar secara harian. Sementara untuk pekerjaan memanen padi, pemilik sawah akan memberikan bagian bawon berupa sepersepuluh hasil petikan padi kepada masing-masing pemetik. Hasil bawon satu sama lain biasanya hampir sama karena cara dan alat yang dipakai semua juga sama.
Sabit sebenarnya alat yang tidak begitu familier di desa saya, alat potong ini biasanya dipakai para lelaki untuk mencari rumput untuk hewan ternak mereka. Sejak saat itu mereka mulai mengajak suami dan anak laki-laki mereka untuk membantu bahkan menggantikan pekerjaan memetik padi. Memanen padi yang dulu menjadi domain perempuan, kini beralih menjadi domain lelaki.
Dampak sosial dari perubahan ini adalah hilangnya keguyuban dan kehangatan saat memanen padi. Tidak ada lagi senda gurau para perempuan pemetik padi, juga tidak ada lagi acara makan-makan bersama. Pemandangan indah yang dulu biasa terlihat, kini berganti dengan persaingan antar para lelaki pemetik padi. Yang ada dalam pikiran setiap pemetik sekarang adalah bagaimana bisa menghasilkan padi sebanyak-banyaknya.
Suasana yang tidak sehat dan semakin sempitnya lahan sawah di desa, membuat warga desa saya menarik diri dari dunia pertanian. Mereka kemudian beralih profesi menjadi sopir, penjual bakso, pedagang di pasar, peternak bebek atau buruh di pabrik tahu. Kini, hampir tidak ada lagi warga desa saya yang mau terjun di sektor pertanian.
Karena sulit mencari buruh tani dari warga setempat, para pemilik sawah kemudian mencari tenaga kerja dari desa lain. Mereka biasanya datang dari satu desa yang cukup jauh dari desa saya dalam jumlah sampai puluhan orang. Hitungan upahnya biasa dilakukan secara borongan.
Kini, satu-satunya pekerjaan yang semangat gotong royongnya masih tinggi mungkin tinggal pekerjaan yang berkaitan dengan soal kematian. Untuk urusan yang satu ini hampir semuanya masih gratis, mulai dari pembuatan makam, pengurusan jenazah, pembacaan tahlil dan lain-lainnya.

Sabtu, 17 Desember 2011

Tanaman tembakau sangat memuaskan

Petani tembakau di Desa Gedongombo Kec. Ploso Kab. Jombang tahun 2011sangat memuaskan. Berbeda dengan tahun lalu, panen tembakau tahun ini sangat memuaskan. Harganya yang tinggi bahkan mencetak rekor tertinggi sudah pasti akan menebalkan dompet mereka. Untuk jenis tembakau yang baru dipetik dari batangnya semisal daun yang paling bawah harganya mencapai Rp. 3.000, per kilogram (kg), daun yang tengah mencapai Rp. 4.500, per kilogram (kg), dan daun yang paling atas mencapai Rp. 5.000, per kilogram (kg).
Kenaikan harga terpicu oleh mutu tembakau hasil panen tahun ini yang baik. Cuaca tahun ini mendukung budidaya tembakau oleh petani. Curah hujan yang lebih rendah dari tahun 2010 menjadikan jumlah tanaman tembakau yang sangat baik. “
BAKRI petani menyatakan, curah hujan rendah membuat tanaman tembakau cukup mendapatkan sinar matahari. Hal ini dapat meningkatkan kadar gula tembakau. Selain itu, pembentukan daun tembakau juga lebih optimal sehingga meningkatkan produksi panenan.
Menurut BAKRI, rata-rata produksi 1 hektare lahan tembakau mencapai satu ton. Namun, ada juga yang kurang dari itu, “Tapi, ini jauh lebih dari tahun 2010 yang kurang dari separuhnya pencapaiannya,” Dengan peningkatan itu, produksi tembakau tahun ini akan jauh lebih dari 2010 lalu.
Nyoto, menghitung, pertumbuhan produksi tembakau di Ds. Gedongombo tahun ini bisa mencapai 90% dari 2010. Khusus wilayah Gedongombo dan sekitarnya, tahun 2010 lalu bisa memasukkan panenan ke gudang sekitar 14.000 ton. “Tahun ini bisa 25.000 ton, lebih tinggi dari tahun 2009 hanya 19.000 ton,”